Keagungan Nabi pun Perlu Diteguhkan

Judul                : asy-Syifâ` bi Ta’rîfi Huqûq al-Mushthafâ

Penulis              : Qâdhî ‘Iyâdh

Penerbit            : Dâr al-Fikr

Cet                   :  Pertama, 2004

Tebal                :  304

Harga               :

 

Keagungan Nabi pun Perlu Diteguhkan

 

Tanpa kelahiran seorang anak manusia bernama Abu al-Fadhl, mungkin Barat Islam tak akan pernah terdengar namanya di dunia Islam. Demikianlah pernyataan sebagian ulama untuk menunjukkan betapa besar pengaruh Qadhi Iyadh. Nama lengkap Qadhi Iyadh adalah Abu al-Fadhl Musa ibn ‘Iyâdh ibn Umar ibn Mûsâ al-Yahshabiy as-Sibtiy al-al-Muhaddits al-Mâlikiy.

 

Abu al-Fadhl lahir 476 H, dan ada pendapat yang mengatakan ia lahir bulan Sya’ban 496 (Kasyf azh-Zhunûn, jilid, IV, hlm. 52). Ia hidup pada akhir pemerintahan Daulah al-Murâbihîn dan awal-awal pemerintahan Daulah al-Muwahiddîn. Ia telah menguasi pelbagai disiplin keilmuan yang berkembag pada masanya. Karena penguasaannya yang dalam terhadap disiplin ilmu pengethuan yang berkembang saat itu para ulama memberinya banyak gelar. Di anatarnya ialah al-Faqîh (Pakar Yurisprudensi Islam), al-Muhaddits (Pakar Hadits),  dan asy-Syâ`ir (Pujangga).

 

Pada dekade ketiga dari umaurnya, ia meninggalkan kampung halamannya menuju Andalusia untuk memperdalam pelbagai ilmu pengetahuan para intelektual saat itu. Setelah dirasa cukup dalam mencari ilmu, ia kembali ke kampung halamanya. Karena kemampuan intrktualnya yang sangat brilian, ia diangkat menjadi Qâdhî (Hakim) di Sibtah. Lantas, dipindah menjadi Qâdhi di kota Grenada. Sehingga kemudia ia lebih dikanal dengan nama Qâdhî ‘Iyâdh. Sebab, sebagain besar umurnya dihabisnya untuk menjadi hakim.

 

Pada masa pemerintahan Daulah al-Muwahiddîn di Sibtah terjadi pembrontakan dan kekacauan untuk melawan pemerintahan Daulah al-Muwahiddîn. Pada saat Qâdhî `Iyâdh dituduh ikut melakukan pembrontakan dan menyebarkan fitnah untuk menentang pemerintah. Pada klimaksnya, ia pun ditangkap dan diasingkan ke Marâkisy. Setalah setahun di pengasingan ia meninggal dunia. Tepatnya tahun 553 H pada masa khilafah Abd al-Mu`min ibn Ali al-Kûmî. Ia dimakamkan di Bâbu Îlân dan sampai sekarang makamnya sering diziarahi oleh orang-orang muslim.

 

Sang Qâdhî boleh wafat, tetapi ia telah meninggalkan banyak karya. Salah satunya adalah kitab asy-Sifâ` bi Ta’rîfi Huqûq al-Mushthafâ. Buku ini ditulis atas desakan temannya agar ia menulis tentang keagungan kedudukan Rasulullah [H. 7]. Perlu dicatat, buku ini bukan untuk ditujukan kepada orang-orang yang mengingkari kenabian dan kemujizatan Muhammad. Tapi tujuan buku ini ditujukan  kepada orang-orang yang mengakui kenabian Muhammad, agar keyakinan mereka semakin mantap sehingga bisa semakin cinta kepada Rasululah dan meningkatkan amal ibadah mereka [H. 100].

 

Buku ini dibagi menjadi enam bagian dan setiap bagian terdiri dari beberapa bab. Bagian mengupas tentang penghormatan dan pengagungan Allah kepada Rasulullah. Menurut Sang Qâdhî, puncak dari penghormatan Allah kepada Rasulullh adalah ketika Allah bersumpah demi umurnya. Hal ini dapat dilihat dalam firman-Nya surat Al-Hijr ayat 72, “Demi umurmu (Muhammad), sesungguhnya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan (kesestan)”. Untuk menguatkan pendapatnya ia mengutip pernyataan Ibn Abbas, “….aku tak mendengar Allah bersumpah atas nama kehidupan seseorang selain Muhammad Saw”. [H. 20].

 

Bukan hanya ayat di atas yang diajukan ajukan oleh Sang Qâdhî, tetapi juga mengajukan ayat lain, di antaranya ialah ayat 1 surat an-Najm, “Demi bintang ketika terbenam”. Ia merujuk pada pendapat Ja’far ibn Muhammad yang menyatalam bahwa yang dimaksudkan “bintang” dalam ayat ini adalah hati Muhammad (qalbu muhammad) [H. 21]. Dalam bagian pertama ini, Sang Qâdhî juga menjelaskan tentang sosok Rasulullah yang penyayang kepada seluruh makhluk, selalu menepati janji, dapat dipercaya, rendah hati dan lain-lain.

 

Bagian kedua menjelaskan hak Rasulullah yang harus dipenuhi oleh semua manusia. Dalam bagian ini salah satu yang dijelaskan adalah kewajiban bagi seluruh manusia untuk membenarkan dan mengimani apa yang di bawa oleh Rasulullah. Di dalam Al-Quran surat Al-`A’râf ayat 158 dikatakan, “Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi”. Jadi beriman Allah dan Rasulullah adalah sebuah keniscayaan, dan keimanan seorang tak ada artinya jika tanpa dibarengi dengan iman kepadanya. [H. 149]. 

 

Dari sini, dapat dipahami bahwa keimanan kepada Rasulullah adalah sesutau yang tak dapat ditawar lagi. Tanpa mengimaninya, keislamanan seseorang tidaklah sahih. Jadi, pegingkaran kepada Rasulullah tidak dapat dibenarkan. Dan jika ada orang yang mengklaim sebagai pemeluk Islam tetapi tidak mengakui kebenaran Rasulullah maka dengan sendirnya klaimnya gugur. Sebab, Islam tak bisa dipisahkan dari Rasulullah.

 

Setelah kita beriman kepada Allah dan Rasulullah maka dengan sendirinya kita dituntut untuk selalu mencintai keduanya. Para ulama berbeda pendapat dalam menafsir ungkapan “cinta kepada Allah dan Rasulullah”. Salah satunya adalah pendapat yang menyatakan cinta kepada Rasulullah adalah menyakini pertolongannya dan mengikuti sunnahnya. Sedang pendapat lain menyatakan, bahwa cinta kepada Rasulullah adalah selalu mengingatnya. Perbedaan ini bukan dilihat dari sisi pernyataan mereka yang berbeda-beda (ikhtilâf al-maqâl). Tetapi harus dilihat sebagai perbedaan kondisi spiritual yang mereka rasakan (ikhtilâf al-ahwâl). [H. 161].

 

Bagian ketiga menjelaskan tentang hal-hal mustahil dan boleh bagi Rasulullah dan nabi-nabi lain. Para ulama telah sepakat bahwa semua nabi terjaga dari kemaksiatan, tetapi mereka berselisih tentang kerjagaan mereka dari kemaksiatan sebelum diangkat menjadi nabi. Sebagian ulama berpedapat bahwa mereka dijaga dari kemaksiatan, sedang sebagian ulama lain menyatakan bahwa sebelum mereka diangkat menjadi nabi mereka bisa saja melakukan kemaksiatan.

 

Dalam hal ini Sang Qâdhî memelih pendapat yang kedua, ia menyatakan: “Pendapat yang benar adalah bahwa mereka bersih dari kemaksiatan..”. Argumentasai yang ia ketengahkan adalah bahwa sesuatu dapat dikategorikan sebagai maksiat dan larangan itu setelah adanya ketetapan syara. [H. 219].

Dalam konteks ini, saya melihat Sang Qâdhî ingin menyatakan bahwa akal manusia tak bisa menentukan baik dan buruknya sebuah tindakan, dan hanya syara yang berhak untuk menetukan baik dan  buruknya tindakan. Pandangan seprti ini jelas merupakan pandangan khas As’ariyyah.

 

Selanjutnya, ia juga menghadirkan perbedaan para ulama tentang bagaimana kondisi Nabi sebelum diberi wahyu oleh Allah, apakah ia mengikuti syariat sebelumnya atau tidak? Dalam hal ini ada tiga pendapat, dinataranya aalah pendapat mayoritas ulama yang menyatakan bahwa sebelum Nabi mendapat wahyu ia tidak mengikuti syariat sebelumnya. Sedang yang lain menyatakan bahwa nabi mengikuti syariat yang sebelumnya. [H. 220].

 

Dari pendapat yang yang ada, Sang Qâdhî lebih memilih pendapat yang pertama. Sebab, tak ada keterangan satu pun dari Nabi yang menyatakan bahwa diriinya sebelum menerima wahyu mengikuti syariat sebelumnya. Pandangan ini menurut perlu untuk dipertanyakan kembali. Sebab, dalam sejarahnya, sebelum Nabi menerima wahyu ia suka pergi ke Gua Hira untuk bertahnnuts. Bukankah ini merupakan syariat orang-orang terdulu?

 

Sedang bagian yang terakhir adalah tentang hukum orang yang merendahkan dan menghina Nabi. Menurut Sang Qâdhî orang yang menghina ata merendah harus dibunuh. [H. 253]. Salah satu hadits yang dijadikan pijakannya adalah, “Barang siapa yang mencela seorang nabi maka bunuhlah, dan barang siapa yang mencela para sahabatku maka hajarlah dia”. [H. 254]. Begitu juga orang yang mencela, meremehkan, dan mendustakan seluruh nabi [291]..

 

Dari sini dapat kita pahami ketidak terimaan umat Islam ketika ada gambar kartun Nabi yang dimuat harian Jillan Posten Denmark. Umat Islam diseluruh dunia bereaksi dengan keras atas pemuatan kartun Nabi tersebut. Tetapi, bagaimana jika yang dikartunkan adalah nabi Isa, apakah kita akan bereaksi yang sama? Jika kita tidak berekasi yang sama maka kita tak ubahnya sebagaimana orang kafir. Sebab, orang yang beriman tidak akan membeda-bedakan antara seorangpun dengan yang lain dari rasul-rasul-Nya []

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s