~Pandangan Kaum Muda~ Membentuk narasi sejarah

Stephen Coulthart
 
South Orange, New Jersey – Setiap hari, kita dibombardir oleh sejumlah analogi politik dari para politikus dan para ahli seperti: “Operasi Pembebasan Irak adalah Vietnam babak kedua” atau “‘perang melawan teror” adalah “Perang Dingin modern”. Analogi memang sangat berharga bagi pengalaman manusia. Mereka membuat kita lebih menyadari keadaan dunia dan membantu kita belajar dari kesalahan-kesalahan masa lalu.

Tetapi, dalam dunia politik, analogi tidaklah sempurna dan bisa mendistorsi kenyataan yang sebenarnya jauh lebih rumit.

Analogi telah digunakan dalam retorika politik sejak lama. Tetapi khusus analogi sejarah, penggunaannya terus meningkat. Dua Perang Dunia dan sejumlah perang kecil yang tak terhitung jumlahnya dalam kurun 100 tahun terakhir nampaknya membuat kita semakin bergantung pada analogi-analogi sejarah untuk membuat keputusan-keputusan sulit dan bertahan menghadapi krisis. Setelah serangan 11 September misalnya, para politikus Amerika menyebut-nyebut Pearl Harbor untuk meyakinkan diri bahwa Amerika Serikat akan menang dalam perang berikutnya.

Tidak hanya membuat analogi, para politikus dan diplomat membangun dan membentuk kebenaran-kebenaran sejarah yang menyesatkan demi mendapatkan dukungan untuk kebijakan yang mereka buat. Dalam bukunya, Muqqadimah, filsuf Arab abad ke-14 Ibnu Khaldun mengingatkan kita akan penyalahgunaan seperti itu. Ia menulis bahwa ketergantungan pada analogi tanpa menyadari perubahan yang terjadi bisa menyebabkan orang “jatuh ke dalam jurang kesalahan” karena kealpaan dan keabaian mereka sendiri.

Peristiwa dalam Perang Dunia II memberikan banyak analogi sejarah bagi para politikus. Salah satunya adalah peristiwa yang melibatkan Perdana Menteri Inggris Neville Chamberlin. Sebelum PD II para politikus dan masyarakat umum memang masih punya harapan besar bahwa perdamaian bisa dipertahankan selamanya. Namun penolakan Chamberlin terhadap dijatuhkannya hukuman keras kepada Jerman karena dianggap tidak adil dan bertujuan untuk mempertahankan perdamaian malah memungkinkan Adolf Hitler menduduki sebagian Cekoslowakia di bawah Perjanjian Munich 29 September 1938 yang ditandatangani oleh Jerman, Prancis, Inggris, dan Italia. Chamberlin dianggap terlalu lemah.

Dalam artikelnya di Newsweek, “Mitologi Munich”, penulis Even Thomas berbicara mengenai hal ini dan menyebut idiom politik yang dihasilkan dari peristiwa itu bahwa menyerah pada satu agresi akan mengundang agresi lain yang lebih besar. Ia pun mengatakan bahwa, “dalam sejarah Amerika modern, tak ada metafora yang lebih sering digunakan – atau disalahgunakan – selain metafora ‘Munich’ ini.”

Sebelum Perang Teluk pertama misalnya, Presiden AS George H.W. Bush membandingkan serbuan Saddam Hussein ke Kuwait dengan serangan “poros kejahatan” sebagai cara untuk mengalahkan argumen mereka yang mendukung penyelesaian tanpa kekerasan. Kemudian pada tahun 2003, pemerintahan George W. Bush berhasil mengalang dukungan untuk Perang Irak yang lain dengan menarik persamaan antara Saddam Hussein dengan Adolf Hitler.

Dan persamaan-persamaan tersebut tidak berhenti di sana. Orang hanya perlu melihat pidato-pidato penting untuk menemukan istilah-istilah yang akan mengingatkan terhadap ancaman-ancaman dan musuh-musuh PD II: “Poros Kejahatan” dan “Islamo-fasisme” hanyalah beberapa contohnya.

Akhir kata, para pemimpin modern harus bertanggung jawab dan bersikap kritis terhadap analogi-analogi sejarah tersebut. Upaya-upaya harus dilakukan bukan untuk menarik kesamaan-kesamaan yang sesungguhnya tidak ada. Ahli sejarah Amerika Arthur Schlesinger menyatakan, “[kita tidak boleh] memperlakukan sejarah seperti keranjang serba ada yang di dalamnya orang bisa menemukan hadiah untuk dirinya” hingga kita bisa menggunakannya untuk merasionalisasi setiap kebijakan yang kita buat.

Drazen Pehar, mantan panglima angkatan bersenjata presiden Bosnia dan Herzegovina, menjelaskan bahwa penggunaan yang paling bertanggung jawab terhadap analogi-analogi tersebut adalah dengan mempertahankan kerancuan mereka: “Yang perlu kita lakukan hanyalah melonggarkan hubungan antara sebuah sumber metafor sejarah dengan sasarannya”. Menyederhanakan keadaan yang rumit menjadi satu persamaan umum bisa menciptakan dua bahaya.

Pertama, menyederhanakan keadaan yang sebetulnya sangat rumit yang mempunyai sekumpulan akibat yang rumit pula. Kedua, menghilangkan potensi untuk menyelesaikan masalah dengan cara yang lebih kreatif.

Misalnya, dengan menggambarkan Iran sebagai bagian dari “Poros Kejahatan” (axis of evil)dan menyamakannya dengan kekuatan-kekuatan fasis masa lalu, Amerika Serikat telah menghilangkan kemungkinan-kemungkinan bagi kebijakan damai.

Sederhana saja, kita harus membuat “ruang gerak” yang lebih luas untuk penafsiran sejarah. Karena kalau tidak, kita bisa saja menyamakan dua peristiwa yang sebetulnya berbeda dan akhirnya membuat kita jatuh ke dalam jurang kesalahan.

###

* Stephen Coulthart adalah mahasiswa pasca sarjana jurusan diplomasi dan hubungan internasional di Whitehead School of Diplomacy at Seton Hall di New Jersey. Artikel ini ditulis untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews).

Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 13 Maret 2009, www.commongroundnews.org
Telah memperoleh izin untuk publikasi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s