Perempuan di Lembaran Suci

Judul             : Perempuan di Lembaran Suci,

                   Kritik Atas Hadist-Hadist Shahih

Penulis           : Ahmad Fudhaili

Penerbit         : Nuansa Aksara

Cet               : Pertama, Februari 2005

Tebal            : xvi + 263 hlm.

Harga            : Rp. ,

 

 Kritik matan digunakan untuk membuktikan keabsahan hadist, baik secara tekstual maupun kontekstual. Relevansi hadist dipertanyakan kembali, dengan berbagai sudut pandang; apakah suatu hadist masih dapat diamalkan pada masa kini atau sebagai romantika sejarah belaka. Studi kritik matan hadist ini berimplikasi pada keabsahan hadist-hadist yang telah dinyatakan shahih oleh imam Bukhari, Muslim, atau ulama-ulama hadist lainnya; apakah benar hadist-hadist tersebut shahih? Dan apakah hadist shahih tersbut dapat dijadikan pedoman dan diamalkan, jika ternyata bertentangan dengan pandangan kontemporer umat Islam? Sebagian ulama memahami hadist dengan cara ta’wil terhadap al-Quran dan sulit memahaminya secara tekstual. Akan tetapi, ulama lain memhaminya secara tekstual terhadap matan hadist.

 

Permasalahan hadist shahih yang berkaitan dengan perempuan menjadi perhatian serius di kalangan intlektual muslim kontemporer, karena beberapa hadist dinilai “misigonis” dan mendiskriditkan kaum perempuan, sehingga dianggap bertentangan dengan al-Qur’an. Terlebih lagi, hadist-hadist yang mempuanyai kualitas terbaik dan paling absah, yaitu kitab al-Jami’ al-Shahih karta Imam Bukhari. Kitab yang disusun berdasarkan seleksi yang demikian ketat, sehingga hadist yang termuat di dalam kitab tersebut akurasi keabsahannya sangat dipercaya.

 

Meskipun demikian, keabsahan hadist dalam kitab Bukhari dipertanyakan kembali jika ditinjau dari aspek matan. Benarkah Imam Bukhari tidak memperhatikan kontekstual hadist dalam menyeleksi hadist? Hadist-hadist shahih yang terkesan menyudutkan memungkinkan untuk dikaji ulang dengan menggunakan kritik matan dengan metode yang sudah disitematisir oleh para ulama hadist. Hadist tersebut harus dilihat dari konteks kesejarahan kultur yang berkembang saat itu. Ada beberapa sistem pendekatan dalam mengkaji hadist, di antaranya; hadist yang terkesan kontradiktif dengan teks atau pemahaman al-Quran itu harus ditolak atau dianggap dha’if. Atau dikaji dengan mendahulukan cara ta’wil untuk memahami hadist yang terkesan kontradiktif daripada harus menolaknya hadist shahih.

 

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s