HIV-AIDS HANTU BAGI REMAJA

HIV-AIDS HANTU BAGI REMAJA

Oleh; Achmad Ikrom

(Pemerhati Masalah Remaja, Guru SMK Cindera Hati Bogor)

Pendahuluan

Kelompok masyarakat usia remaja minim pengetahuan soal kesehatan reproduksi, mereka terancam HIV/AIDS yang dapat memasung masa depannya. Usia rentan semakin muda yaitu pada usia 13-15 tahun. Demikian dijelaskan dalam berita kompas (JAKARTA, Sabtu (12/9/09). KOMPAS.com) mengutip pernyataan dr Yanto Sinaga.

Setiap orang dewasa, pasti pernah mengalami masa muda. Begitu pula anak balita niscaya akan melewati usia muda. Orang bilang, masa muda adalah masa yang paling indah dalam kehidupan, kemana kaki melangkah selama ada kemauan pasti ada jalan. Tapi sayangnya, masa muda ini sangat identik dengan masa untuk berhura-hura, berpesta-pora, mau melakukan apa saja asal hati gembira.

Istilah lain yang sepadan dengan pemuda ialah kata “remaja”. Istilah remaja ini mempunyai predikat yang melekat yang jarang disandangkan pada orang tua maupun anak balita, yaitu “kenakalan”. Kata ini kemudian di sambungkan menjadi satu paket yang sering kita dengar menjadi “kenakalan remaja”. Predikat ini disandangkan setidaknya ada dua alasan mendasar yang telah mengakar dan dipahami masyarakat pada umumnya. Pertama, perbuatan nakal atau menyimpang ini dapat ditolerir kalau yang melakukannya para remaja. Seolah-olah dengan kenakalannya masih banyak peluang waktu untuk bertaubat. Dengan itu, tidak jarang kita dengar ketika ada anak muda yang berlaku brutal, tawuran, mabuk-mabukan, mengkonsumsi NAPZA (narkotika, alkohol, psikotropika dan zat adiktif) dan bahkan seks bebas, dijawab dengan santainya; “biarkan saja memang masih muda, entar kalau sudah tua pasti akan berhenti sendiri tanpa harus disadarkan”. Padahal, perbuatan masa muda itu akan sangat mempengaruhi seseorang dalam mengarungi hidup dan kehidupan selanjutnya. Kedua, kemajuan dan kemunduran suatu bangsa dan agama dapat dilihat dari prilaku anak mudanya. Pemahaman ini sudah diyakini kebenarannya oleh penduduk dunia, khusunya oleh umat Islam yang berangkat dari sabda Nabi Muhammad SAW; antum subbanu al-yaum wa rijalu al-ghadz, kalian adalah pemuda di masa sekarang dan penanggung jawab (umat) di masa mendatang. Dengan itu, kemunduran suatu bangsa dan agama dapat dilihat dari kawula mudanya.

Tak pelak jika mayoritas orang tua meletakkan keberhasilan anaknya di masa mendatang adalah prioritas utama, atau bahkan dijadikan sebagai tujuan hidupnya. Lantas apakah yang menjadi hantu penghalang kesuksesan remaja? Kalau mau disebut satu persatu hantu penggodanya memang tidak sedikit, tapi paling tidak ada satu hantu yang paling ganas yang akan menghambat atau bahkan memasung masa depan remaja, yaitu penyakit HIV/ AIDS. Penyakit ini menyerang tanpa mengenal usia, bahkan data terakhir menyebutkan bahwa meningkatnya pengguna narkoba meningkat pula angka pengidap HIV/AIDS, terutama dikalangan remaja.

Saat ini di dunia diperkirakan hampir lebih 30 juta orang hidup dengan HIV/AIDS dan sebagian besar ada di negara-negara sedang berkembang. Oleh karenanya tidak mengherankan apabila AIDS saat ini menjadi penyebab yang paling utama dari kematian yang terjadi. WHO memperkirakan perkembangan HIV/AIDS setiap harinya terjadi sekitar 14.000 kasus baru atau setiap detiknya akan ada 9 kasus (http://prov.bkkbn.go.id). Bahkan Survei terakhir yang dilakukan Departemen Kesehatan bersama dengan Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) dan Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) pada tahun 2009 melaporkankan bahwa sepuluh tahun terakhir sampai dengan September 2009 ini kasus HIV/AIDS di Indonesia meningkat sangat cepat, dan paling banyak ditularkan melalui hubungan heteroseksual. Dari seluruh kasus penularan HIV/AIDS di Indonesia, sebanyak 48,8 persen ditularkan melalui hubungan heteroseksual, disusul penggunaan narkoba suntik sebanyak 41,5 persen, dan homoseksual sebanyak 3,3 persen (Kamis, 26 November 2009; KOMPAS.com).

Dr. Yanto Sinaga, relawan Yayayasan Aids Indonesia (YAI) mengatakan; usia rentan HIV/AID adalah usia remaja, terutama usia 13-15 tahun. Ia menambahkan, penderita HIV/AIDS di Indonesia usia 5-14 tahun sebanyak 166 orang dan 15-19 berjumlah 495 orang. Dengan jumlah tersebut Indonesia termasuk negara dengan percepatan paling banyak bersama Vietnam, India, dan Thailand (Sabtu, 12 September 2009; KOMPAS.com).

Agar hantu dimaksud dapat terlihat lebih terang dan dimengerti oleh para remaja hingga mereka dapat menyelamatkan diri dari bahayanya, maka tulisan ini hendak menjawab beberapa pertanyaan yang di antaranya; Apakah yang disebut HIV/AIDS dan apa penyebabnya? Bagaimana system kerja penularan, dan bagaimana menghindarinya? Dan bagimana pula kita bersikap pada orang yang telah mengidap penyakit tersebut? Lantas apa solusinya buat kita semua, khusunya untuk generasi muda.

HIV dan AIDS

HIV adalah singkatan dari Human Immunodeficiency Virus yang dapat menyebabkan AIDS dengan cara menyerang sel darah putih CD4 yang dapat merusak sistem kekebalan tubuh. Sehingga seseorang tidak dapat bertahan dari gangguan penyakit walaupun jenis penyakit ringan sekalipun. Virus HIV menyerang sel CD4 dan merubahnya menjadi tempat berkembang biak Virus HIV yang kemudian merusak hingga tidak dapat digunakan lagi. Padahal, Sel darah putih sangat diperlukan untuk sistem kekebalan tubuh. Tanpa kekebalan tubuh maka ketika diserang penyakit, tubuh manusia tidak memiliki pelindung. Dampaknya adalah kita dapat meninggal dunia atau paling tidak terkena pilek yang tak kunjung sembuh.

AIDS singkatan dari  Acquired Immune Deficiency Syndrome, yaitu kumpulan gejala penyakit yang diakibatkan oleh hilangnya sistem kekebalan tubuh.  Penyebab AIDS adalah HIV (Human Immunodeficiency Virus), virus yang menurunkan kekebalan tubuh manusia. Virus ini membutuhkan waktu untuk menyebabkan sindrom AIDS yang mematikan dan sangat berbahaya. Tapi, ketika seseorang terkena Virus HIV tidak lantas terkena AIDS. Bila seseorang tertular HIV, selama kurang lebih 4-12 minggu pasca pajanan HIV. Orang tersebut bila diperiksa anti HIV hasilnya akan negatif, karena pada masa tersebut antibodi HIV belum terbentuk, tetapi sebenarnya sudah terinfeksi HIV dan pada masa inilah HIV sangat efektif ditularkan kepada orang lain. Karena juga ada proses untuk seseorang dapat menjadi HIV positif hingga beberapa tahun kemudian dapat menjadi AIDS yang mematikan. Konon sampai saat ini tidak ada obat yang dapat menyembuhkannya secara total.

AIDS memliki logika sebab akibatnya sendiri. Sekalipun belum bisa dipastikan dari mana asal muasalnya, tetapi para pakar sudah bisa memastikan bahwa penularan HIV/AIDS hanya terjadi melalui hubungan seksual (homoseksual, biseksual, maupun heteroseksual), transfusi darah, jarum suntik dan penularan terhadap bayi yang dilahirkan oleh ibu yang positif HIV/AIDS. Di Indonesia sendiri, orang yang pertama kali ditemukan terkena AIDS adalah seorang ibu berumur 25 tahun yang tertular melalui tranfusi darah yang kerap diterimanya berkaitan dengan penyakit anemia hemolitik autoimun yang dideritanya (Zubairi Djoerban, 2001:21), di samping fakta lain bahwa mayoritas ODHA (orang dengan HIV/AIDS) di Indonesia adalah orang-orang berperilaku heteroseksual. Penemuan-penemuan terbaru menyebutkan bahwa orang-orang yang rentan dan paling beresiko terkena penyakit AIDS adalah mereka yang memiliki daya tawar sosial lemah seperti anak-anak, perempuan dan mereka yang hidup dalam kemiskinan.

Secara sederhana penyebab HAIV/AIDS setidaknya mengacu pada penelitiannya IAKMI (Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia) ada dua macam, yaitu hubungan seksual dan penggunaan narkoba suntik. Tapi secara lebih rinci HIV dapat ditularkan melalui 4 cara, yaitu;

  1. Hubungan seks (anal, oral, vaginal) yang tidak terlindungi dengan orang yang telah terinfeksi HIV.
  2. Transfusi darah atau penggunaan jarum suntik secara bergantian.
  3. Melalui Alat Suntik.
  4. ASI Ibu/ pasangan

HIV tidak ditularkan melalui jabatan tangan, sentuhan, ciuman, pelukan, menggunakan peralatan makan/minum yang sama, gigitan nyamuk, memakai jamban yang sama atau tinggal serumah.

Adapun gejala-gejalanya adalah sebagai berikut;

  1. Merasa kelelahan yang berkepanjangan
  2. Deman dan berkeringat pada malam hari tanpa sebab yang jelas.
  3. Batuk yang tidak sembuh-sembuh disertai sesak nafas yang berkepanjangan.
  4. Diare/mencret terus-menerus selama 1 bulan
  5. Bintik-bintik berwarna keungu-unguan yang tidak biasa
  6. Berat badan menurun secara drastis lebih dari 10% tanpa alasan yang jelas dalam 1 bulan.
  7. Pembesaran kelenjar secara menyeluruh di leher dan lipatan paha.

Orang yang terinfeksi HIV tidak dapat diketahui dari penampilan fisiknya saja karena orang tersebut terlihat seperti orang sehat lainnya. Jadi, untuk menentukan seseorang terinfeksi HIV atau tidak harus dilakukan pemeriksaan darah. Pemeriksaan darah bertujuan untuk mendeteksi ada atau tidaknya anti bodi HIV di dalam darah. Antibodi HIV ini dihasilkan oleh tubuh sebagai reaksi system kekebalan tubuh terhadap infeksi HIV. Oleh sebab itu, pemeriksaan ini lebih tepat disebut “Tes Antibodi HIV” bukan tes AIDS.

Cara Menghindari HIV-AIDS

Ada sebuah ungkapan bahwa menjahui penderita HIV/AIDS sangatlah tidak adil, karena bayi yang tak berdosa pun dapat mengidap penyakit tersebut. Terlebih saat berdekatan dengan penderita penyakit itu tidak menyebabkan tertular. Tapi bagaimana jika bagi anak-anak yang baru akan tumbuh dewasa (remaja)? Secara psikologis mereka adalah anak-anak yang masih labil, yang sedang mencari jati dirinya, suka berkumpul dengan teman-temannya, bahkan seringkali kedekatan antar anak seusianya jauh lebih dekat daripada kedekatan anak dengan orang tuanya.

Remaja merupakan sasaran empuk untuk menjadi konsumen narkotika dan industri seks sehingga dapat merubah perilaku sehat menjadi perilaku yang beresiko dalam penularan Infeksi Menular Seksual (IMS). Nah, bagaimana jika yang menular adalah prilaku jelek dari lingkungan pergaulannya? Seberapa banyak remaja yang kumpul dengan pemabuk tidak ikut minum? Dan seberapa banyak remaja yang suka kumpul dengan pelaku seks bebas tidak turut menikmatinya? Sehingga ada piwulang carilah teman yang baik, dan hindari teman yang nakal. Bahkan ada pribahasa yang mengatakan; “anaknya Nuh  (Nabi Nuh A.S) gara-gara salah pergaulan, sirnalah tahta kenabian”. Sehingga dapat dikatakan pula sangat tidak adil kalau generasi muda tidak boleh memilih atau menentukan siapa temannya yang baik untuk diajak bergaul.

Namun demikian, bukan berarti harus menjahui teman-teman yang amoral sejauh-jauhnya, mereka juga anak manusia yang perlu disapa. Jika tidak anda yang peduli terhadap mereka lantas siapa lagi yang akan membimbingnya? Untuk itu, penulis hadirkan beberapa cara agar terjauhkan dari penyakit HIV-AIDS meskipun anda sedang bergaul dengannya;

  1. Jalankan perintah agama dan jauhi larangannya
  2. Jangan melakukan hubungan seks kecuali dengan pasangan sah (nikah)
  3. Jangan melakukan hubungan seks dengan pasangan yang anda tidak ketahui kondisi kesehatannya.
  4. Jauhi prilaku berganti-ganti pasangan seksual.
  5. Gunakanlah kondom dalam melakukan hubungan seks, jika salah satu atau keduanya terinfeksi HIV
  6. Jika membutuhkan transfusi darah, mintalah kepastian bahwa darah yang akan diterima bebas HIV
  7. Gunakan alat suntik sekali pakai
  8. Hindari mabuk-mabukan dan narkotik yang membuat Anda lupa diri.

Sikap Terhadap Korban HIV-AIDS

Kenyataan bahwa penderita HIV/AIDS di usia remaja semakin bertambah. Mereka adalah manusia sebagaimana kita semua. Sayangnya, pemahaman tentang HIV/AIDS di tengah masyarakat masih minim sekali. Sehingga banyak di antara korban HIV/AIDS yang dikucilkan dan dianggap sampah masyarakat. Padahal mereka membutuhkan bantuan dari kita semua, mereka butuh dukungan untuk terus menjalani hidup, bukan untuk dijauhi atau dianggap tak berarti. Mereka juga butuh bahu seseorang untuk bersandar, bukan tangan untuk mendorongnya jatuh.

Banyak orang mengira, penderita HIV/AIDS hanya karena ulahnya yang sering melakukan hubungan seks bebas dan pengaruh NAPZA. Pantas saja jika mereka menganggap korban HIV/AIDS hanya pendosa dan akibatnya mendapat kutukan Tuhan. Padahal, pandangan ini tidak dapat dibenarkan sepenuhnya. Karena penularan HIV/AIDS dapat menular melalui sebagaimana diterangkan di atas.

Melalui pemahaman ini sebaiknya jika menemukan teman kita yang menderita HIV/AIDS alangkah indahnya dapat menjadi sahabat yang baik. Memberikan penguatan psikologisnya agar dapat semangat dalam menjani hidupnya. Terlebih jika anda mengaku sebagai orang yang beragama. Dalam keberagamaan yang baik adalah orang yang mencintai saudaranya dalam keadaan apapun. Agama juga menganjurkan untuk menengok/menemani orang-orang yang lagi sakit, dan sekaligus melarang perbuatan sebaliknya, menghina, mencaci dan memaki.

Solusi dan Pencerahan Bagi Remaja

Meningkatnya korban HIV/AIDS di kalangan remaja lebih dikarenakan sikap permisif. Agus W Arifin, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Malang, mengatakan bahwa penyebab meningkatnya remaja terinveksi visrus HIV/AIDS itu karena pergaulan bebas. Ia berharap semua masyarakat agar turut mengontrol prilaku generasi muda, termasuk menetapkan tempat tertentu yang menjadi larangan bagi pengunjung yang masih remaja (SMP-SMU).

Selain itu, pengetahuan tentang reproduksi dikalangan muda masih minim sekali. Banyak anak muda yang minim akses terhadap pengetahuan yang dapat menolong mereka memiliki informasi benar agar menjauhkan dari konsekuensi tragis. Kondisi itu antara lain menyebabkan lebih dari 5 juta anak muda hidup dengan HIV. Sebanyak 45 persen di antaranya terjadi di usia 15-24 tahun (Selasa, 1 September 2009; kompas.com). Padahal, diusia remaja biasanya dorongan untuk mengetahui segala sesuatu sangat tinggi sekali, termasuk keingin tahuan tentang NAPZA dan seks. Karena perubahan fisik dan emosi pada anak secara berarti mulai terjadi pada pria saat usia 13-15 tahun dan 12-14 tahun pada wanita, sebab pada fase ini alat kelamin sekunder sudah matang. “Interval tersebut yang dinamakan masa pubertas, masa peralihan dari masa anak-anak menjadi dewasa muda. Dan mereka akan mencoba segala sesuatu, salah satunya ketertarikan pada lawan jenis. Sedangkan NAPZA biasanya lebih banyak sebagai pelariaan persoalan saat menghadapi depresi atau persoalan.

Dengan demikian, pengetahuan tentang fungsi reproduksi  (seks),  NAPZA dan bahayanya HIV/AIDS harus disampaikan dengan baik dan benar. Jika hal ini dilakukan oleh berbagai pihak niscaya akan menjadi wawasan dan prilaku baik bagi remaja serta akan dapat menghindari prilaku negatif. Pemuda kita akan terselamatkan dari bahaya hantu HIV/AIDS yang dapat merusak dirinya dan dapat mewujudkan cita-cita remaja, bangsa dan agama. []

5 Comments

  1. Weny yg baik hati….
    jika ingin temen2 berubah yg mungkin pernah atau gemar melakukan penyimpangan tdk cukup hanya dengan doa. tp kasih pengertian dengan penuh rasa kasih….:) meski demikian, setidaknya doa anda sdh sangat bermanfaat yg akan menjadi spirit mereka dan diri ananda sendiri utk berbaik pada semua… trimakasih. moga sukses…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s