Public Figure

Public Figure

Ahmad Ikrom*

لقد كان لكم في رسولله أسوة حسنة لمن كان يرجوا الله واليوم الأخر وذكر الله كثيرا

(الاحزاب: 33: 21)

Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu ; (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat, dan banyak mengingat (berzikir) kepada Allah

Ayat di atas mengingatkan sekaligus menegaskan kepada ummat Islam agar jangan sampai salah mengambil publik figure sebagai uswah hasanah (teladan) dalam hidup dan kehidupan. Publik figure yang baik adalah manusia yang dapat memberikan teladan hidup sesuai dengan ajaran-ajaran hukum dan moralitas Islam. Dan sebaik-baiknya publik figure adalah Rasulullah Saw.

Belakangan ini banyak sekali manusia yang dikenal oleh sebagian kelompok orang dengan enteng-nya mengaku sebagai publik figure. Pengakuan tersebut sering muncul dari kalangan artis, politisi dan juga sebagian kelompok pejuang Islam, baik melalui media cetak maupun elektronik. Dalam waktu yang sama, ummat Islam belakangan ini juga banyak yang salah dalam menentukan siapa publik figure yang semestinya dianut. Padahal, prilaku mereka seringkali tidak sesuai dengan moral yang diajarkan oleh Islam sendiri. Muhammad Abduh, salah satu tokoh muslim dari Mesir awal abad ke-20 pernah menyindir prilaku umat Islam yang jauh dari teladan Nabi Muhammad Saw tersebut, al-Islamu mahjubun bi al-muslimin (Islam terhalang oleh umatnya sendiri). Lantas bagaimanakah Islam menyikapi hal tersebut?

Imam Thabari dalam kitab tafsirnya al-Bayan, menjelaskan; public figure adalah orang yang mengerjakan segala sesuatunya semata-mata mengharapkan balasan dari Allah di hari kelak dan banyak berdzikir kepada Allah Swt serta siap menjadi teladan baik untuk dirinya sendiri dan orang lain. Ia juga menambahkan bahwa orang tersebut tidak suka melebih-lebihkan dirinya.

Sudah selayaknya, umat Islam menentukan Rasulullah sebagai publik figure, panutan hidupnya. Ia telah mengajarkan umat manusia untuk bersabar dalam cobaan, menahan amarah, memberikan yang terbaik buat orang lain dan membalas keburukan dengan kasih sayang. Hadist yang menunjukkan prilaku kebaikannya banyak sekali, bagaimana ia saat diludahi tiap berangkat ke masjid justru dijenguk saat yang meludahi tertimpa sakit, dan bagaimana saat beliau dicela dan dihina oleh orang-orang Thaif yang sampai membuat geram para malaikat penjaga gunung hingga hendak menimpakan gunungnya, justru Rasulullah Saw membalas dengan senyum dan doa kedamaian.

Sebagai bangsa terbesar umat Islamnya, Indonesia mempunyai tanggungjawab besar untuk memberikan teladan kepada bangsa-bangsa di dunia, khususnya buat negara-negara Islam. Tanggung jawab moral tersebut sebagai salah satu implementasi misi ketuhanan yang tertera dalam Pancasila, sekaligus menjawab tudingan negatif dunia bahwa Islam itu agama pedang dan perang (teroris). Tudingan Islam agama teroris yang digencarkan oleh sebagian non-muslim sebenarnya harus kita akui sebagai kritik baik. Karena memang ada beberapa umat Islam yang mendeklarasikan diri sebagai pejuang Islam, justru beberapa dekade terakhir menggunakan sistem kekerasan, tidak Islami.

Dengan itu, kritik yang ditujukan kepada umat Islam tersebut jelas menjadi tanggungjawab bangsa ini, terutama bagi tokoh-tokoh politik, agamawan dan masyarakat muslim pada umumnya. Jika hal ini disadari oleh semua kalangan muslim, khususnya yang ada di Indonesia, niscaya pembenahan umat Islam dari keterpurukan baik segi moral keagamaan dan tatanan sosial serta membantah tuduhan sebagai agama teroris akan mudah dicapai.  Islam memang agama yang terbaik, dan bukan agama teroris oleh sebab itu menjadi keyakinan kita bersama. Tapi implementasi dari ajaran-ajaran Islam yang kadang dirasa masih jauh dari kesempurnaannya. Meski demikian, jika hendak melangkah progresif setidaknya tetap ada tolak ukur keberhasilan yang harus dicapai, di antaranya adalah sejauh mana nilai-nilai kemanusian, keamanan, keadilan sosial, perdamaian dan kebebasan dalam keberagaman dan keberagamaan setiap warga masyarakat mendapat jaminan.

Keteladanan Nasional memang dapat dimulai dari siapa saja, terutama dari seputar orang-orang ternama, para pemimpin pemerintahan dan pemuka agama. Hal ini menjadi pilihan karena orang-orang tersebut hampir dipastikan dekat dengan media dan mudah dipublikasikan hingga dapat ditiru oleh warga masyarakat. Akan tetapi sebagai umat Islam sudah seharusnya siap menjadi teladan hidup bagi sesamanya. Karena setiap dari kita kelak akan dimintai pertanggungjawaban sesuai dengan kapasitasnya masing-masing. Sifat teladan tersebut selain mengikuti teladannya Rasulullah sebagaimana yang telah ditetapkan pada ayat di atas, diharapkan dapat juga mencontoh bagaimana Nabi Ibrahim dan ummatnya. Dalam al-Quran, Allah berfirman:

لقد كان لكم فيهم أسوة حسنة لمن كان يرجوا الله واليوم الأخر ومن يتول فإن الله هوالغني الحميد

(الممتحنة:60  : 6)

Sesungguhnya pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) ada teladan yang baik bagimu; (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) hari kemudian. Dan barangsiapa yang berpaling, maka sesungguhnya Allah Maha kaya lagi Maha Terpuji. (QS Al-Mumtahanah [60]: 6).

Secara umum, surat al-Mumtahanah yang diturunkan setelah surat al-Ahzab menyuguhkan ketegasan untuk tidak berhubungan dengan orang kafir yang memusuhi umat Islam, sedangkan bersahabat dengan orang-orang kafir yang tidak memusuhi Islam sangat dibolehkan.  Dalam sebuah riwayat dikemukakan bahwa Qatilah (ibu kandung Asma yang belum Islam) datang kepada anaknya, Asma binti Abi Bakar. Setelah kejadian itu Asma datang kepada Rasulullah dan bertanya: “Ya Rasulallah, bolehkah saya berbuat baik kepadanya”. Rasulullah saw. menjawab: “Ya, boleh” (HR. Bukhari). Pada riwayat lain disebutkan ibu Asma yang bernama Qatilah datang membawa bingkisan dan Asma menolak pemberian itu. Maka saat Rasulullah saw. mendengar kejadian itu mengatakan kepada Asma agar menerima bingkisan itu (HR. Ahmad). Kejadian ini kemudian menjadi asbab nuzulnya surat al-Mumtahanah ayat yang ke-delapan yang menegaskan bahwa tidak ada larangan untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangi kita karena agama dan tidak (pula) mengusir kita dari negeri sendiri. Dengan jelas Allah Swt dalam ayat ini menyatakan sangat mencintai orang-orang yang berlaku adil kepada siapapun. Selain itu, keteladanan kepada umat Islam untuk dapat meniru intropeksi nabi Ibrahim dengan doanya; “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir. Dan ampunilah kami ya Tuhan kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS: al-Mumtahanah [60]: 5)

Dengan demikian, publik figure yang baik adalah orang yang terus berbuat demi mencari ridha-Nya, hanya mengharap balasan akhirat, tidak memusuhi orang lain, banyak berdzikir kepada Allah Swt, selalu melakukan yang terbaik untuk orang lain sebagaimana ia melakukan kebaikan untuk dirinya sendiri, menjaga keutuhan dan kerukunan antar sesama manusia serta tidak pernah mengunggul-unggulkan dirinya atas kebaikannya. Selain itu, tidak pernah lupa untuk intropeksi dan selalu berdoa. Sedangkan menjadi teladan yang baik, yang dapat ditiru oleh orang lain adalah kewajiban kita semua sebagai umat Islam. Namun, alangkah indahnya jika pemimpin-pemimpin dan pemuka-pemuka agama di negeri ini dapat menjadi publik figure yang baik, sebagaimana yang telah dicontohkan Rasulullah Saw dan Nabi Ibrahim as niscaya kemajuan bangsa dan keunggulan Islam akan terwujud dengan sendirinya. []

*Penulis adalah sekretaris Jenderal Forum Komunikasi Da’i Muda Indonesia,  alumnus Hauzah Ilmiah Qum-Iran

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s